5 cara menjadi guru yang kreatif

Guru kreatif bukannya sekedar membuat anak senang dan enjoy oleh permainan (games) yang seru, segar dan lucu selama pembelajaran berlangsung

Tips menjaga suasana belajar aktif yang berhasil

Dalam suasana pembelajaran aktif, banyak terjadi interaksi antara siswa dengan guru. Interaksi tersebut bisa merupakan pertanyaan dari guru kepada siswa atau sebaliknya, atau diskusi yang mencerahkan anara keduanya. .

Kiat Pendidikan Islami Sejak Dini pada Anak

Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Memukul Bukan Cara Untuk Belajar Disiplin

Orang tua dilarang memukul anak-anak mereka karena risiko kemudian hari, Royal College of Pediatri telah memperingatkan. Para ahli mengatakan bahwa hukuman setara dengan serangan fisik sangat tidak efektif untuk perilaku buruk. Prof Terence Stephenson, menunjukkan bahwa orang tua bukannya mengadopsi pendekatan positif dan menetapkan batas-batas kuat untuk anak-anak mereka.

Video Game, Pembunuh yang Mematikan

Video game jelas merupakan sarana hiburan yang sangat mengasyikan. Namun di saat yang bersamaan, video game juga bisa menjadi 'pembunuh'. Mengapa?.

Jumat, 04 Desember 2009

Deteksi Perilaku Anak

Banyak orang tua yg konsultasi mengenai perkembangan anak2 nya terutama perkembangan beljar anak2 di sekolahnya. salah satu orang tua yg mengkonsultasikan pada saya adalah anak yg mengalami kesulitan dalam mengorganisasi tugas2 sekolah, mudah cepat lupa, dan menghindari tugas2 yg menuntut konsentrasi misal menulis/ mencatat dan menyimak.

Ciri2 ini sering di tunjukkan pada anak yg mengalami gangguan konsentrasi tetapi sebenarnya mereka adalah anak2 yg cerdas. Berikut ada dua kelompok ciri perilaku yg bisa kita pakai untuk mengecek perilaku anak kita selama 6 bulan terakhir, yaitu :

KELOMPOK I :
1. Sering ceroboh dalam tugas sekolah atau aktivitas lain.
2. sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian.
3. sering melihat tidak mendengar ketika di ajak berbicara langsung.
4. Sering tidak mengikuti intruksi sehingga gagal dalam melakukan tugas.
5. Sering kesulitan mengatur tugas dan aktivitas.
6. Sering menghindar dan tidak suka terlibat dalam aktivitas.
7. Sering kehilangan barang yg dibutuhkan untuk melakukan tugas.
8. Perhatiannya mudah teralih oleh rangsangan dari luar.
9. Sering lupa.

KELOMPOK II
1. Sering memainkan tangan atau kaki atau menggeliat kursi.
2.Sering meninggalkan kursi.
3 Sering berlari atau memanjat di dalam situasi di manapun perilaku tersebut tidak pantas.
4. Sering kesulitan bermain.
5. Sering berperilaku seolah2 seperti mesin
6. Sering bicara berlebihan.
7. Sering terburu - buru menjawab sebelum pertanyaan selesai.
8. Sering sulit menunggu giliran
9. Sering mengganggu orang lain.

Selama 6 bulan terakhir ini bila anak menunjukkan minimal 6 poin perilaku dari kel I dan II, dan semua perilaku muncul paling tidak di dus tempat sebaiknya kita membawa anak2 kita ke psikolog/ dokter/ neorolog untuk memastikan gangguan dan penanganan yg tepat. Pada umumnya dalam penanganan ini di butuhkankan kerja sama antara psikolog, neorolog anak, dan terapis. Dan bekerjasamalah dengan pihak sekolah agar anak kita mendapat guru pendamping untuk membantu secara individual baik dalam hal pelajaran maupun pengendalian perilaku.

Hal ini di butuhkannya pemahaman yg luas kepada para orang tua bahwa setiap anak itu unik dan kita sebagai orang tua harus memahami ini, sekalipun anak itu sudah di nyatakan autis tapi tetap anak2 itu memiliki potensi dan kita orang tuanya harus menjadi kan anak2 kita itu menjadi anak yg mampu menyelesaikan masalah dalam hidupnya dan juga mampu melakukan sesuatu yg bermanfaat.

Semoga masukan ini akan bermanfaat.

Ditulis oleh : Susy Susiawati


Kamis, 03 Desember 2009

Visi dan Misi SDIT Adzkia Sukabumi

VISI
Membentuk generasi cerdas, sholeh, kreatif, dan unggul yang berwawasan global dalam menyongsong masa depan.

MISI
- Menjadikan peserta didik memiliki pemahaman dan wawasan keislaman yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah yang diaplikasikan dalam bentuk ibadah dan aktivitas sehari-hari.
- Menjadikan peserta didik termotivasi untuk menjadi penghafal – penghafal Qur’an
- Menanamkan konsep dasar IPTEK sederhana sebagai upaya awal untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi
- Menanamkan dasar-dasar kemandirian baik secara individu maupun kelompok / organisasi sebagai upaya penanaman jiwa kepeminmpinan
- Menciptakan lingkungan yang kondusif berekonomi untuk melatih jiwa enterpreuner
- Menjadikan peserta didik memiliki fsik yang sehat dan bugar
- Menamamkan keberanian dalam menerima tantangan dan pengambilan tindakan

Selasa, 01 Desember 2009

Komunikasi Pengasuhan Anak

Seorang ibu menangis terisak, ia menceritakan anak lelakinya yang tertangkap basah oleh guru BP menyimpan video porno di hapenya. Seorang anak yang selama ini begitu manis dan santun dan baru berusia 14 tahun. “apa yang salah dengan saya? Saya sudah berusaha jadi ibu yang baik, saya sekolahkan dia di sekolah swasta agamis yang bagus, saya penuhi segala kebutuhannya!..”, Isaknya.

Bunda tercinta, bagaimana reaksi kita bila itu terjadi pada anak kita? Marah, kecewa, sedih dan bahkan shock adalah reaksi yang mungkin kita alami. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain melihat hasil usaha kita (anak) tumbuh menjadi pribadi yang jauh dari harapan. Padahal, menurut kita tidak ada yang salah dengan pengasuhan dan pendidikan di rumah. Benarkah begitu?

Pengasuhan adalah kebiasaan-kebiasaan yang meninggalkan kesan baik dan memberikan kenyamanan bagi diri. Seorang anak yang dibesarkan dengan kelimpahan materi, segala keinginannya selalu dipenuhi, akan menganggap bahwa seperti itulah hidup ini. Ketika lingkungan meresponsnya dengan tidak sesuai harapan, si anak akan menganggap lingkunganlah yang salah. Atau bila anak itu dibesarkan oleh keluarga dari suku tertentu yang intonasi suaranya selalu tinggi, dia tetap nyaman dengan ‘kelantangannya’ dimanapun berada.

Menjadi orang tua adalah fitrah, secara otomatis kita akan dipanggil ayah atau ibu ketika kita dititipi amanah seorang anak oleh Allah. Seiring waktu berjalan, mereka tumbuh dan berkembang. Orang tua memiliki harapan-harapan yang menurutnya dan lingkungan baik. Berbekal ilmu pengasuhan yang diperoleh secara turun temurun, mereka memperlakukan anak mereka. Orang tua membuat peraturan-peraturan untuk mendidik anaknya. “Pulang sekolah langsung ke rumah, PR jangan lupa dikerjain, abis main dirapihkan lagi,main PS jangan lama-lama” dan seterusnya. Biasanya yang terjadi adalah anak berkata (dalam hatinya): “saya tidak mau disuruh-suruh!”. Dari sinilah berawal perjuangan tanpa akhir bermula.

Ketika Bobi (5 thn) meminta sesuatu sambil menghentak-hentakkan kaki, biasanya ibu akan berkata, “mau kamu apa sih,ibu kan sudah bilang iya!”.Semakin tinggi intonasi suara ibu, makin heboh hentakannya, atau malah Bobi menjadi tantrum. Mereka pun berselisih, meninggalkan perasaan tertekan atau stress satu sama lain. Sebenarnya mekanisme psikologis apa yang sedang terjadi di sini?. Si ibu mendengar Bobi dengan telinganya, bukan dengan mata dan hati. Padahal untuk menolong anak mengubah tingkah lakunya, ibu harus memahami mengapa Bobi bertindak seperti itu sehingga ibu dapat menangani situasi tersebut. Pernahkah ibu menerjemahkan hentakan kaki Boby sebagai ”saya sedang kesal,perhatikan saya! Katakan sesuatu pada saya!”.

Keterampilan menerjemahkan inilah titik kunci untuk merangsang anak bertindak secara tepat sehingga akhirnya bisa diajak bekerja sama. Ibu harus peka menangkap mekanisme psikologis yang terjadi dalam diri anak. Dalam pelatihan inilah kita dilatih untuk menangkap perasaan anak, sedang sedihkah ia, marah, kecewa, kesal,gembira atau lain sebagainya. Cara kita berbicara atau berkomunikasi dibenahi supaya kebutuhan dasar si anak terpenuhi. Bila anak merasa perasaannya diterima oleh orang tuanya, dia akan merasa aman dan nyaman untuk berbicara apa saja dengan kita.Bila ini sudah terpenuhi, berbahagialah kita menjadi sahabat anak kelak. Tempat mereka mencurahkan segala perasaan, berbagi rahasia dan menjadi tempat mereka kembali bila menghadapi tantangan agresi lingkungan yang bisa membuatnya tertekan, baik agresi fisik maupun agresi verbal.

Hal ini bisa tercapai bila ada kenyamanan dan keamanan di dalam rumah. Mana ada atmosfer kenyamanan bila anak baru saja masuk rumah, si ibu sudah siap dengan jurusnya, “itu tas jangan taruh sembarangan”,”ganti baju dulu, makan, baru boleh megang komputer”,”awas ya kalo kamu bohong”,”kan udah ibu bilang”, “masa begini aja ga bisa sih”,”tumben nih anak ibu rajin, biasanya...”, dan berbagai gaya populer lainnya. Sadar atau tidak, gaya-gaya pengasuhan model ini hanya membuat jarak antara kita dan anak.Memerintah, meremehkan,menyalahkan,membandingkan,menyindir, menasihati adalah sebagian dari gaya yang harus kita hilangkan. Alih-alih memotivasi anak berbuat baik, kita malah membuatnya merasa tidak dihargai dan disayang. Atau malah kita terlalu overprotective pada anak sehingga membuat dirinya merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang tuanya.

Padahal anak yang mandiri, dalam artian cukup bertanggung jawab dalam mengurus dan memecahkan masalahnya sendiri akan tumbuh jadi anak dengan kepercayaan diri yang besar. Hal ini tidak didapat bila kita tidak membiasakan anak untuk memilah-milah masalah, masalah anak atau bukan. Ingat bahwa orang tua bukanlah “super problem solver” , ini berarti bahwa siapa yang memiliki masalah, dialah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalahnya. Seringkali orang tua mengambil alih masalah anaknya, bahkan sampai mencari pekerjaan pun jadi masalah orang tua. Mereka sibuk mencari teman atau saudara yang bisa “dititipi” anaknya. Ketika anak menangis karena mainannya hilang disebabkan ia lupa membereskan, orang tua pun sibuk mencari dan biasanya sambil menggunakan gaya populer.

Bila anak berada dalam masalah yang kira-kira tidak mengganggu privasi orang tua, tidak mengganggu keselamatan diri dan orang lain, maka orang tua hanya berfungsi sebagai fasilitator. Jadilah pendengar aktif yang selalu terbuka terhadap perasaan anak, bantu dia untuk mengenali, menerima, mengerti dan sadar akan perasaannya sendiri, lakukan kontak mata. Jangan ada pretensi apapun pada anak dan biarkan ia mengambil keputusannya sendiri. Selain mengakrabkan hubungan orang tua dan anak, cara ini memberikan pengalaman menyenangkan dan mendorong anak terbuka dalam hal apapun pada orang tua.

Tetapi bila 3 syarat di atas ada yang tidak terpenuhi, misalnya sudah ada kesepakatan antara ortu dan anak soal jam nonton televisi tapi kemudian si anak berusaha untuk melanggarnya. Pada saat inilah menjadi masalah orang tua. Nyatakan perasaan orang tua akan perilaku anak tersebut, jelaskan kepada dia alasannya. Ingatkan anak akan perjanjian yang sudah dibuat. Orang tua harus mengutarakan bahwa yang tidak disukai adalah perilaku anaknya, bukan pribadinya. Penyampaiannya pun dilandasi kasih, tegas tapi tidak juga merusak perasaan dan harga diri anak. ”kamu memang gak pernah nurut”, atau ” sudah berapa kali ibu bilangin..”, adalah kalimat-kalimat penghambat dalam menyampaikan pesan ke anak. Hanya akan membuat anak merasa dirinya selalu salah sehingga tumbuh dendam dan benci dalam dirinya.

Positive feeling menimbulkan positive thinking, begitupun sebaliknya. Anak-anak dengan pikiran positif akan berlaku sesuai aturan diri dan lingkungan. Proses perpindahan energi positif ini didapat melalui komunikasi yang berlangsung terus menerus, semenjak ia dilahirkan. Dan hanya jika kita berbicara dengan mereka, bukan kepada mereka.

Ditulis oleh :Nina Alfa Rizkana

Rabu, 25 November 2009

Observasi kelas 2 ke kandang sapi








Observasi yang dilakukan seluruh kelas 2 ini yaitu ke tempat kandang sapi yang berada di daerah Cibaraja Sukabumi. Observasi ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 17 November 2009.

Rabu, 18 November 2009

Struktur Organisasi




Di bawah ini adalah struktur organisasi di SDIT Adzkia
Periode 2011 - 2012

Ketua Yayasan : Ir. Zakiah Syamsudin
Kepala Sekolah : Yuyun Kusnawati, S.Si
Wakil Kepala Sekolah :
1. Kurikulum : Irma Fitriani,A.Md. Ak
Staff :
Ratna Sumilar
Ela Nurlaila,S.Pdi


2. Kesiswaan : Mimin Karmila,S.Pi
Staff :
Rahmat Hermawan, S.Pdi
Eneng Sri Mulyani, A.Md

3. TU dan Sarana & Humas : Kamil Ibrahim
Staff :
Sukron Ma'mun,A.Md (Kepala Lab.Komputer)
Asep Muhlis(Sarana)
Ridwan (Keuangan)
Deden Supriyadi, S.Ag (5K)
Hilman (5K)
Wewen (Security)
Yudi (Security)

Wali Kelas :
Kelas 1 A : Yuyu Yulia, S.Pdi
Kelas 1 B : Ani Setiani, S.Pd.I
Kelas 1 C : Enung Nurhayati
Kelas 1 D : Tina Artianasari, A.Ma
Kelas 1 E : Dwi Merdeka Putri, A.Ma
Kelas 2 A : Eli Febiyanti,S.Pd.I
Kelas 2 B : Rina Mistiati,SE
Kelas 2 C : Eva Fatimah,S.Sos.I
Kelas 2 D : Cucu Aisyah,S.Pd.I
Kelas 2 E : Lina Andriani,S.Ag
Kelas 3 A : Neng Susanawati,A.Ma
Kelas 3 B : Dedeh Windarsih,S.Pd
Kelas 3 C : Munarti Mirnawati,S.Pd.I
Kelas 3 D : Nurul Hidayah,S.P
Kelas 4 A : Ujang Dillah
Kelas 4 B : Rifa Purnama
Kelas 4 C : Dini Anggraeni,S.Pd.I
Kelas 4 D : Eli Nurlaeli,S.Pd.I
Kelas 4 E : Lukmansyah,S.Pd.I
Kelas 5 A : Opik Taofik,S.S
Kelas 5 B : Emzi Elips Saputra, A.Md
Kelas 5 C : Siti Rohilah
Kelas 5 D : Dina Susanti,S.Pd.I
Kelas 5 E : Ela Nurlaila,S.Pd.I
Kelas 6 A : Eneng Sri Mulyani, A.Md
Kelas 6 B : Nur Hajar
Kelas 6 C : Rahmat Hermawan, S.Ag
Kelas 6 D : M. Farlin, S.Pd.I

Guru Madah :
1. Nandar Suherlan
2. Herra Taufik
4. Ade Risabudin
5. Ari
6. Eli Nurlaeli, A.Ma
7. Narno Firmansyah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites